Sore itu ketika aku beristirahat di depan kalibata mall sambil menunggu angkot 34 menuju kerumah kakaku. Letih rasanya badan ini setelah berjalan-jalan untuk berbelanja di mall tersebut, aku memutuskan untuk beristirahat sebentar dan membeli air minum kemasan sambil duduk-duduk di warung samping jalan.

Sementara itu, disekitarku, aku lihat beberapa penjual di trotoar menjajakan jualannya, para remaja jalanan yang asyik bermain gitar dengan teman-temannya, anak-anak jalanan yang kelihatannya baru berkumpul dengan teman-temannya sendiri, dan kaum urban yang berjalan dengan buru-buru tak menghiraukan sekeliling. Maklum lah, hari itu masih hari kerja jadi mereka buru-buru untuk pulang karena tak mau terjebak macet jam pulang kerja.

Aku minum beberapa teguk air mineral, dan meletakkan botol itu disampingku karena tenggorokan ini telah merasa segar. Tiba-tiba terdengar suara anak kecil membuyarkan keasyikanku mengamati perilaku orang-orang di sekitarku. Aku lihat seorang bocah berumur sekitar 10 tahun berdiri disampingku. Kondisi fisiknya menggambarkan tekanan kehidupan yang berat baginya.

Kulitnya hitam dekil dengan baju kumal dan robek-robek disana-sini. Tubuhnya kurus kering tanda kurang gizi. “Ya?” Tanya saya kepada anak itu karena aku tadi konsentrasi melihat orang-orang di sekitarku. “Maaf kak, masih butuh air minum itu gak ?” katanya dengan penuh sopan sambil jarinya menunjuk air minum di sampingku. Pandanganku segera mengikuti arah telunjuk si bocah. Oh, air minum dalam kemasan itu tidak aku minum. Aku bahkan sudah tidak peduli sama sekali dengan air itu, karena aku sudah tidak merasa haus lagi.

“Tidak. Mau ? Nih…” kataku sambil memberikan air minum kemasan tersebut kepada bocah itu. Diterimanya air itu dengan senyum simpul. Senyum yang tulus.

Beberapa menit kemudian, aku lihat dari ke jalan seberang, bocah tadi berjalan beririringan dengan 3 orang temannya. Masing-masing membawa tas kresek di tangannya. Ke empat anak itu kemudian duduk melingkar dilantai trotoar. Mereka duduk begitu saja. Mereka tidak repot-repot membersihkan trotoar yang terlihat kotor. Masing- masing kemudian mengeluarkan isi tas kresek masing-masing.

Setelah aku perhatikan, rupanya isinya adalah “harta karun” yang mereka temukan masing-masing. aku lihat ada roti yang tinggal separoh, jeruk medan, juga separuh, sisa kotak, dan air minum dalam kemasan!

Selanjutnya dengan rukun mereka saling berbagi “harta karun” temuan mereka tersebut. aku lihat bocah paling besar menciumi nasi kotak bekas itu untuk memastikan apakah sudah basi atau belum. Tanpa menyentuh sisa makanan, kotak nasi itu kemudian disodorkan pada temannya. Oleh temannya, nasi sisa tersebut juga dibaui. Kemudian, dia tertawa dengan penuh gembira sambil mengangkat tinggi-tinggi sepotong paha ayam goreng. aku lihat, paha ayam goreng itu sudah tidak utuh. Nampak jelas bekas gigitan seseorang.

Tapi si bocah tidak peduli, dengan lahap paha ayam itu dimakannya. Demikian juga makanan sisa lainnya. Mereka makan dengan penuh lahap. Sungguh, sebuah “pesta” yang luar biasa. Pesta kemudian diakhiri dengan berbagi air minum dalam kemasan punyaku tadi !

Menyaksikan itu semua, aku jadi tertegun. aku lihat sendiri persis di depan mata, potret anak-anak kurang beruntung yang mencoba bertahan dari kerasnya kehidupan. Nampaknya hidup mereka adalah apa yang mereka peroleh hari itu. Hidup adalah hari ini. Esok adalah mimpi dan misteri.

Cita-cita? Masa Depan ? Lebih absurb lagi. Bagi diri aku pribadi, pelajaran berharga yang aku petik adalah, bahwa aku harus makin pandai bersyukur atas segala rejeki dan nikmat yang diberikan oleh Tuhan. Dan tidak lagi memandang sepele hal yang nampak sepele, seperti misalnya: air minum kemasan. Karena bisa jadi sesuatu yang bagi kita sepele, bagi orang lain sangat berarti.

Berawal dari beranjaknya usia remaja, pasti anak muda jaman sekarang mulai memperbaiki penampilan. Paling utama pastinya merawat wajah, yang mana para remaja menyebutnya facial. Terutama bagi cewek yang sudah puber. Pastinya selalu ingin mempunyai wajah yang putih, mulus, bersih, terhindar dari yang namanya jerawat, sinar matahari langsung, dan bahkan hal sekecilpun yaitu komedo.

Aku pun tidak jauh beda dengan remaja lainnya mengalami suatu hal yang membuat aku merasa risih dan menyebalkan saat berkaca, yaitu timbulnya komedo disekitar hidung. Awalnya mencoba untuk memakai pembersih muka hingga khusus pembersih komedo. Pastinya mengeluarkan uang untuk membeli segala macam pembersih. Aku mulai mencoba membuat cara tradisional untuk membersihkan hal sekecil ini, sehingga tidak perlu mengeluarkan uang.

Lalu aku mencoba dengan teori-teori yang pernah ada, bahwa untuk membersikan muka yang berkaitan dengan pori-pori, terutama harus meregangkan pori-pori agar mudah dibersihkan. Aku mulai mencoba dengan air hangat. Lebih jelasnya handuk yang sudah aku rendam dalam air hangat, diperas, dan ditempelkan ke wajah. Namun, dalam waktu yang tak lama, hasilnya kurang maksimal. Tidak semua komedo terangkat. Kemudian aku mencoba-coba lagi untuk mendapatkan hasil yang maksimal dengan cara yang berbeda.

Aku terpikir bahwa dengan uap air dapat meregangkan pori-pori kulit kita, sehingga apa saja yang menempel dengan mudah bisa dibersihkan. Hingga akhirnya aku mendapatkan cara yang tepat.

Cara kerja aku saat itu adalah aku menyiapkan dua handuk untuk digunakan. Satu handuk besar dan satu handuk kecil, sabun, dan terpenting air hangat dalam baskom. Dimulai dari menutup rambut dengan handuk besar, lalu menundukkan kepala diatas baskom yang terisi air hangat sehingga uap air dapat meregangkan pori-pori pada wajah. Setelah itu aku menggunakan handuk kecil yang sudah dioles sabun untuk mengangkat komedo dengan cara menempelkannya pada wajah. Setelah itu wajah dibilas hingga bersih.

Inilah usaha aku agar aku tidak perlu mengeluarkan uang untuk hal sepele seperti ini.